Sabtu, 9 Juni 2018

MENGASAH KEMAMPUAN KOMUNIKASI

“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;”
(Mazmur 34:13)

Beberapa percakapan antara suami dan isteri berikut ini, menggambarkan betapa pentingnya menyampaikan komunikasi yanng benar untuk menjaga keutuhan keluarga.

Isteri: Pah, tolong ambilin koran… Agak cepat yaaaa…

Suami: Zaman udah serba digital gini, masa baca koran masih model zaman old? Nih Mam, pake iPad Papa ajah…

Sesaat kemudian sang isteri memukul kecoa dengan iPad suaminya dan suaminya pun pingsan!

***

Suami: Mam, gimana kalau Papa suka Selfie?

Isteri: Ngga apa-apa juga sih… Cuma kesannya jadi agak alay gitu. Boleh saja, asal jangan sering-sering ya Pah…

Akhirnya, sang suami hanya seminggu sekali saja apel/datang ke rumah Selfie, sekretarisnya; karena sang isteri berpesan jangan terlalu sering…

Sahabat NK, percakapan di atas tentu hanya sebuah rekaan untuk kepentingan humor belaka. Tetapi bukankah di dunia nyata, miskomunikasi semacam itu kerapa terjadi? Apa yang dimaksud penyampai pesan tidak ditangkap dengan baik oleh penerimanya. Mereka sama-sama bersuara tetapi tidak berada pada frekuensi yang sama.

Menjaga keutuhan atau kesatuan di dalam keluarga dapat dilakukan dengan membangun komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik terjadi jika pesan dimaksud, dapat disampaikan dengan baik pula. Karena itu tidak ada salahnya untuk bertanya meminta kejelasan kepada suami, isteri atau anggota keluarga yang lain, agar tidak salah menangkap pesan dalam berkomunikasi satu dengan lainnya.

Perhatikan betul-betul apa yang dimaksud oleh pasangan, orang tua atau anak; agar kita tidak mengambil kesimpulan keliru. Kesimpulan yang salah dapat mempengaruhi sikap yang salah dan tentu saja tindakan yang keliru pula. [JP]