Selasa, 11 Juni 2019

Manisnya SEBUAH Permen

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.“ (Kolose 3:12)

Ada sebuah kisah tentang seorang lelaki tua yang terbaring lemah di sebuah rumah sakit. Seorang pemuda datang menengok-nya setiap hari dan menghabiskan waktu berjam-jam bersama lelaki tua itu. Pemuda itu menyuapinya, membersihkan badannya, dan membimbingnya berjalan-jalan di taman, lalu membantunya kembali berbaring.

Pada suatu hari ketika perawat datang memberi obat dan memeriksa kondisi orang tua itu berkata, “Bapak punya anak yang berbakti. Setiap hari ia datang untuk mengurus Bapak. Sungguh beruntung ya, Pak.”

Lelaki tua itu memandang perawat itu sejenak, lalu memejamkan kedua matanya. Lelaki tua itu berkata dengan nada yang sedih, “Saya berharap dan berandai-andai, jika dia adalah anak saya. Pemuda baik itu adalah anak yatim yang tinggal di lingkungan tempat tinggal kami. Beberapa tahun yang lalu ketika dia masih kecil, saya melihatnya menangis setelah kematian ayahnya. Saya pun menghiburnya, dan membelikan permen untuknya. Setelah itu saya tidak pernah lagi bertemu dan berbincang dengannya.

Kemudian ketika ia tahu kalau saya dan istri hanya tinggal berdua saja, ia pun berkunjung setiap hari untuk memastikan kami baik-baik saja. Ketika kondisi fisik saya mulai menurun, ia mengajak saya dan istri saya tinggal di rumahnya, lalu secara rutin membawa saya ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan. Saya pun pernah bertanya padanya, “Nak, mengapa engkau menyusahkan diri untuk mengurus kami?’ Sambil tersenyum anak itu menjawab, “Manisnya permen masih terasa di mulut saya, Pak”.

Orang yang hatinya baik dan terlebih jika penuh dengan Roh Kudus akan dengan sendirinya memancarkan kasih dari dalam dirinya. Jangan hanya memikirkan untung rugi ketika kita melihat keluarga, tema atau orang bahkan tidak dikenal untuk ditolong. Tuhan memberikan Roh Kudusnya kepada orang-orang percaya agar kita menjadi saksi bagi-Nya.  Apa yang kita tanam pasti akan kembali kepada kita pula, bahkan berkelimpahan. [SE]