Selasa, 21 Januari 2020

HANYA DOA SEBELUM MAKAN
“ Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatanmu
yang ajaib” ( Mazmur 2:2 )
Kalau diingat-ingat, dulu, yang paling menakutkan (buat saya), menjadi seseorang yang keyakinannya
berbeda dengan orang-orang di sekitar, adalah menunjukkan hal-hal rohani di depan mereka. Buat saya tak usahlah
mengobral iman, cukup hanya saya dan Tuhan. Alasan yang masuk akal. Tapi ternyata tidak.
Satu kali saya dibuat terkesima oleh pria yang persis di hadapan saya, yang sama-sama sedang menunggu
pesanan makanan. Waktu makanannya datang tanpa hirau dengan sekitarnya ia langsung lipat tangan, tutup mata,
dan berdoa. Whatttt!!!! Tiga, empat orang yang paling dekat dengannya termasuk saya langsung mengecilkan volume
suara, dan kata Amin terdengar sangat jelas. Buat saya apa yang dia lakukan adalah tindakan ekstrim, butuh
keberanian untk menunjukkan imannya. Dan itu mengusik batin saya.
Kalau saya bisa menceritakan novel yang saya baca dengan detail, film yang ditonton dengan menggebu-
gebu, atau drama Korea dengan sangat ekspresif, atau juga ngomongin gosip dengan sangat fasih, kenapa saya
tidak bisa menceritakan kebaikan Bapa? Kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama? kebaikanNya yang
jelas-jelas nyata, bukan gosip, bukan dongeng novel, bukan film apalagi drama Korea, kenapa bukan ini yang saya
ceritakan?
Doa sebelum makan, di depan umum, yang jelas-jelas berbeda dengan kita, bagi kebanyakan orang mungkin
hal sepele, apa hebatnya? Tapi buat saya inilah cara paling sederhana untuk memberitahu semua orang betapa
baiknya Tuhan itu. Lipat tangan, tutup mata, itu butuh keberanian. Dan hanya orang-orang yang mengenal baik siapa
Bapanya yang bisa melakukannya.
Menceritakan kebaikan Bapa tidak harus dengan kesaksian yang menggetarkan langit, yang bisa bikin minder
orang yang mendengarkannya. tidak perlu juga harus menunggu kebaikan yang “wah” baru kita beritahu semua
orang. Cukup hanya dengan kehidupan nyata sehari-hari, doa misalnya. Seorang bijak pernah mengatakan, “ Anda
dapat mengajar lebih baik dengan hidup anda daripada dengan kata–kata yang anda ucapkan.” [WER]