Selasa, 7 April 2020

KONSEKUENSI KASIH KARUNIA
“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya
kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh
kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia kamu diselamatkan.” (Efesus 2:4-5)
Sebagai orang percaya tentunya kita harus sepakat sesuai dengan yang tertulis dalam Alkitab, bahwa kita
diselamatkan bukan dengan perbuatan baik tapi semata oleh kasih karunia Tuhan. Sejak lahir kita sudah menjadi
manusia berdosa dengan takdir akan terpisah dengan Allah sampai selama-selamanya. Sungguh sebuah anugerah
yang tak terhingga kalau kita kemudian boleh mengenal jalan kebenaran, percaya dan diselamatkan. Semua karena
kasih karunia Tuhan bagi kita bukan karena perbuatan atau usaha kita. Kalau kemudian kasih karunia dipahami
menjadi seperti sebuah hadiah ini mungkin analogi yang cukup tepat. Kalau kita menerima hadiah tentunya bersifat
cuma-cuma dan tak perlu dibeli. Tapi yang membedakan, hadiah kasih karunia ini mutlak harus disikapi dengan
benar, dalam kasih karunia yang kita terima ada panggilan, tanggung jawab juga kewajiban yang harus dipenuhi
sebagai penghargaan atas kasih karunia yang kita terima.
Karena kasih karunia yang kita terima akan menjadi tak berharga apabila kita tidak meresponinya dengan
benar. Kasih karunia cuma-cuma ini menjadi satu paket dengan konsekuensi yang berat. Sebab setelah kita
menerima kasih karunia dan menjadi percaya dengan menerima Tuhan Yesus dan percaya kepada firman-Nya, kita
dipanggil atau diwajibkan untuk menjadi sempurna seperti Bapa di Sorga (Matius 5:48). Untuk menjadi sempurna
tentunya tidaklah mudah, malah Tuhan Yesus sendiri pun menyatakan dengan tegas bahwa tidak mudah bagi semua
orang untuk masuk Sorga (Matius 19:23-24). Karenanya Tuhan Yesus pun menyatakan bahwa banyak yang
dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih.
Melihat pernyataan ini tentunya akan ada proses seleksi. Dalam seleksi secara umum yang lolos adalah
orang yang memenuhi standar yang ditetapkan. Karenanya setelah menerima kasih karunia kita perlu meresponinya
dengan benar, setelah dengan iman kita meyakini keselamatan kita, langkah selanjutnya adalah pembuktian dalam
kehidupan karena kepastian keselamatan membutuhkan bukti yang ditandai dengan perubahan karakter menjadi
serupa dengan Kristus. [CK]