Senin, 11 Maret 2019

 

LUBANG BEKAS PAKU

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal” (Titus 2:6)

Seorang remaja bernama Zack, seringkali tidak bisa menahan dirinya untuk marah dan melakukan hal-hal yang jahat kepada orang lain. Suatu kali dia datang kepada ayahnya dan menceritakan semua tingkah laku yang sudah dia lakukan terhadap orang lain. Dia meminta nasihat ayahnya bagaimana agar bisa berubah dan menahan diri dari emosi yang berlebihan tersebut.

Ayahnya terdiam sejenak, kemudian ayahnya mengambil sekantong paku dan sebuah palu dari dalam gudang rumahnya, kemudian menyerahkan kepada Zack. “Zack, paku dan palu ini kamu simpan di tempat yang mudah kamu jangkau, dan mulai saat ini, setiap kali kamu tidak bisa menguasai diri, maka sehabis itu, kamu ambil satu paku dan pakukan itu di pagar kayu di depan rumah kita. Kamu setuju dan akan melakukannya Zack?” “Baik Yah.” Jawab Zack dengan bersemangat.

Sepanjang hari itu, Zack menancapkan beberapa paku ke pagar. Demikian juga hari-hari berikutnya. Akhirnya dalam beberapa hari saja, sekantong paku tersebut sudah habis. Zack menemui ayahnya lagi, dan dia melaporkan bahwa hari-hari terakhir sebelum pakunya habis, dia sudah bisa menahan diri lebih baik lagi dibanding hari-hari sebelumnya. Ayahnya mengangguk-angguk tanda kagum.

Kemudian ayahnya menyuruh Zack untuk mengambil kembali paku-paku yang tertancap di pagar kayu tersebut, dengan aturan: setiap kali Zack bisa mengendalikan diri, maka dia berhak mencabut paku tersebut. Dan memang benar, dalam beberapa hari saja Zack sudah berhasil mencabut semua paku di pagarnya. Dan Zack berlari menemui ayahnya lagi untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Kemudian ayahnya mengajaknya ke pagar kayu. “lihat nak lubang-lubang yang ada di kayu ini, meskipun kamu telah mencabut paku-pakunya, namun bekas paku tersebut tetap ada. Dan itu sangat menyakitkan. Oleh sebab itu jangan biarkan kamu memaku pagar itu kembali.”

Sahabat NK, dari kisah ini kita belajar untuk terus menumbuhkan kesadaran pentingnya mengendalikan diri. Jika tidak maka kita akan menyakiti banyak orang. [YP]