Senin, 20 April 2015

MEMILIKI KETEGUHAN HATI

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Matius 6:12)

Saya pernah membaca seorang pria yang menderita cedera berat karena tertabrak oleh seorang sopir mabuk, ketika ia masih berusia 15 tahun. Ia kehilangan salah satu kakinya. Ia melangsungkan pernikahan yang bahagia, dan setelah enam tahun istrinya meninggalkannya, kemudian menikah lagi dengan pria lain. Namun ia memutuskan untuk tetap melakukan yang terbaik bagi dirinya dan sesamanya. Maka ia mendapat gagasan untuk menjadi sahabat pena orang-orang cacat yang lebih buruk keadaannya dari dirinya.

Ia meluangkan banyak waktunya dengan seorang sahabat yang telah dihantam bagian kepalanya dengan sebuah bola kriket ketika ia berusia 9 tahun, dan tidak dapat memanfaatkan kedua lengan dan kakinya. Ia menghabiskan waktu lebih dari empat puluh tahun di sebuah rumah sakit.

Sahabatnya menjawab pria itu dengan tiga halaman surat yang berisi pujian yang membesarkan hati dan menggirangkan dalam setiap kalimatnya. Dan dapatkah anda bayangkan bagaimana caranya ia menyelesaikan suratnya? “Saya berterima kasih kepada Tuhan”, tulisnya. “Saya bersyukur kepada Allah bahwa saya dapat menulis surat saya sendiri – dengan menggunakan mulut”.

Wow, seharusnya mereka memiliki segudang alasan kecewa dalam hidupnya. Karena pasti tidak sedikit usaha yang mereka lakukan dan doa-doa yang mereka panjatkan. Toh, tetap saja mereka memiliki cacat tubuh yang tidak tersembuhkan. Namun, keputusan yang mereka ambil bukan hidup dalam kemalangan, putus asa dan kecewa tapi dari setiap kekurangan, mereka mengambil keputusan bersukacita dan menikmati setiap waktu dalam hidupnya.

Tidak sedikit orang yang memiliki hidup yang normal, sehat, keluarga utuh tapi hidup jauh dari bahagia, karena memiliki hati yang pahit dan penuh kecewa. Memandang masa depan tanpa harapan. Padahal, Tuhan sudah memberikan jalan keluar untuk kita menikmati hidup berkelimpahan yakni hati yang murni dan ucapan syukur yang kita panjatkan setiap hari. Dengan itu, kita bisa melihat sesuatu yang berbeda, meskipun masih di kehidupan yang sama. [NO]

Tuhan, selidiki hatiku. Apakah masih ada kekecewaan yang menguasai kehidupanku. Biarlah pengampunan aku berikan dan damai sejahtera Allah melingkupiku. Aku mau hidup dengan hati yang bersih, supaya aku bisa menikmati setiap berkatMu dan menjalani hari dengan penuh sukacita.