Senin, 25 November 2019

RUT
“bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (Rut 1:16b)
Siang itu, matahari bersinar dengan teriknya. Tiga orang perempuan nampak melangkah letih di jalan menuju Yehuda.
Bungkusan pakaian dan barang-barang lain memenuhi tangan mereka. Terlihat jelas bahwa mereka sedang melakukan perjalanan
untuk pindah ke tempat yang baru.
Berkatalah Naomi kepada Orpa “Cukup sudah kau mengikutiku. Saatnya tiba untuk engkau kembali ke kampung
halamanmu”. Sambil terisak, Orpa menjawab “Tapi bu, aku tidak tega meninggalkanmu dan Rut”. Naomi menjawab “Tak usah kau
pikirkan aku. Ibu masih sanggup menjaga diri. Kembalilah nak kepada kaum keluargamu. Tatalah masa depanmu. Tuhan akan
menyertaimu”. Diiringi tangis pilu, Orpa mencium tangan Naomi dan juga Rut. Ia kemudian berpisah mengambil jalan pulang ke
kampung halamannya.
Tinggallah Naomi dan Rut terpaku. “Nak, telah pulang Orpa ke tempat asalnya. Maka sekarang kembalilah juga engkau
ke tempatmu.” Rut menjawab” Tidak ibu, aku akan tetap setia mengikutimu pulang ke tanah Yehuda”. Naomi menyahut lirih “Tapi
aku tidak bisa menjamin masa depanmu. Suamiku sudah tak ada. Anak pun sudah mendahuluiku. Bagaimana engkau akan hidup
“. Rut terdiam, lalu berkata “Aku sudah mengalami hidup bersamamu ibu. Juga lewat Mahlon, suamiku, aku melihat bagaimana
kalian hidup menyembah Allah Israel yang hidup yang sanggup memelihara kita. Oleh karena itu, ijinkanlah aku untuk pulang ke
tanah asalmu ibu. Biarlah bangsamu menjadi bangsaku dan Allahmu menjadi Allahku.”
Rut memberikan gambaran betapa seorang yang berasal dari bangsa yang bukan menyembah Allah, berubah menjadi
setia mengiring Allah Israel. Ia seolah mempertaruhkan masa depannya. Namun di saat itulah Allah menyatakan pemeliharaan
atas hidupnya. DisediakanNya Boas sebagai ganti suaminya yang sudah tiada. Dan lewat keturunan Rut-lah kemudian Yesus sang
Juruselamat dilahirkan ke dunia. Kesetiaan yang terbayar dengan sangat indah. [CG]