Senin, 4 November 2019

UKS
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
(Markus 16:15)
“UKS”. Akronim berisi tiga kata ini, sudah sangat tak asing di mata saya. Apa itu? “Usaha Kesehatan Sekolah”? Ya, itu
salah satunya. Ada satu lagi: “Untuk Kalangan Sendiri.” Selama saya mempelajari ilmu jiwa demi kesarjanaan, kalimat tiga kata ini
selalu tertera pada sampul depan buku-buku soalan psikotes. Buku berisi soal-soal dan pertanyaan tes psikologi itu selalu
memasang kalimat peringatan, bahwa “Penggunaan Buku Ini Terbatas Hanya di Lingkungan Psikologi”. Memang, ada kode etik
yang mengikat agar semua soal-soal tes psikologi dalam bentuk apapun termasuk jawaban atau cara pengerjaannya, tidak boleh
“bocor” keluar lingkungan non psikologi karena amat berharga dan rahasia. Intinya, ya “Untuk Kalangan Sendiri.”
Tapi celaka dan bodohnya, ada suatu hal berharga yang seharusnya dibocorkan dan tak perlu ditutupi, namun justru
ditekankan dengan kalimat: “Untuk Kalangan Sendiri” ini. Apa itu? Brosur KKR! (Kebaktian Kebangunan Rohani).
Sejak saya masih terbilang bocah, hingga sekarang, brosur alias flyernya pasti berisikan lambang kecil salib yang
menancap pada bulatan lonjong bola dunia ditambah siluet seekor merpati yang menukik ke arah salib dan bulatan dunia itu. Bisa
jadi, seakan, Injil Kristus yang dilambangkan salib, dan Roh Kudus yang dilambangkan merpati putih; siap dicurahkan kepada
penghuni planet bumi melalui ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani ini. Memang, mungkin saja terjadi kebangunan atau
kebangkitan rohani pada gereja atau lembaga yang mengadakannya. Tetapi, ya “Untuk Kalangan Sendiri”.
“Menginjil bukan lagi dengan kata-kata melainkan perbuatan kita!” “Undang-undang melarang penyebaran agama tertentu
ke penganut agama lain!” Dan banyak alasan keren lain yang kita jadikan senjata sah untuk tak pernah mewartakan kabar
keselamatan Kristus yang maha berharga itu. Lalu pertanyaannya, apakah Amanat Agung Kristus bukanlah keharusan, hanya
sekadar pilihan saja?? [AH]