Senin, 8 April 2019

 

BUKAN MADESU

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Apa yang terlintas di benak kita ketika memikirkan masa depan? Bagi banyak orang, masa depan berarti rangkaian peluang tanpa batas, harapan-harapan yang besar, mimpi-mimpi untuk diraih dan cita-cita untuk diwujudkan. Banyak yang percaya bahwa masa depan yang cerah bisa dicapai jika kita memiliki sarana yang tepat seperti uang yang cukup, kualifikasi akademik, kemampuan pribadi yang mumpuni. Banyak orang rela menginvestasikan semua waktu dan tenaga untuk memiliki semua impian itu, dengan harapan bisa memastikan masa depan yang cerah dan bukan masa depan yang suram.

Tidak salah merancangkan masa depan yang lebih baik dari hari kemarin namun, jika kita merenungkan kembali, ada bahaya laten keangkuhan yang bersembunyi di balik berbagai mimpi yang kita sedang impikan. Ini bisa mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, dan menghambat kita untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan Kristus.

Saat saya masih di SMP, saya mengukur diri saya dengan nilai-nilai yang saya peroleh, sebab pada waktu saya sempat mendapat rangking dalam kelas. Ketika mendapat raport sepertinya nilai-nilai saya begitu baik, saya pun merasa puas, begitu masuk SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi nilai saya biasa-biasa saja dan akhirnya saya pun lulus dengan IP (Indeks Prestasi 3,07) dalam hati dengan IP ini saya pasti memiliki masa depan yang lebih baik. Pada satu titik, saya menyadari bahwa saya tidak memegang kendali atas hidup ini. Segala sesuatu tampaknya tidak berarti dan hati saya sepertinya kosong. Sebab begitu saya lulus dari Sekolah Tinggi Teologi saya tidak langsung mendapat tempat pelayanan yang menurut saya itu bisa membuat masa depan saya lebih mapan.

Sungguh, jalan Tuhan itu jauh melampaui jalan kita. Meski kita tidak dapat memahami rencana-Nya secara penuh, namun Dia senang melibatkan kita di dalam prosesnya. Saya menyadari bahwa masa depan yang Tuhan sediakan jauh lebih baik dan melampaui rancangan yang kita buat sendiri. Dia merancangkan kita untuk hidup dalam kekekalan dan lebih dari itu Tuhan memiliki rancangan yang terbaik untuk masa depan kita dan bukan masa depan yang suram. [RB]