Jumat, 28 November 2014

Permulaan Hikmat

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Filipi 3:10)

Ada tiga orang bersaudara yang sama- sama tinggal di sebuah kota. Namun masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda. Saudara yang paling tua adalah pengusaha yang berhasil dan ia menjadi kaya raya dan dihormati. Adiknya yang pertama adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan yang menjalani kehidupan yang biasa-biasa dan sedang-sedang saja. Dia memiliki tempat tinggal, cukup sandang dan cukup pangan. Masih bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan layak, namun tidak pernah menjadi benar-benar kaya. Sedangkan adik mereka yang bungsu hidupnya kurang beruntung. Apapun yang ia kerjakan kurang berhasil, penghasilannya sangat rendah dan seringkali kekurangan. Utangnya banyak dan hidupnya susah.

Membaca kisah di atas, mungkin kita akan menaruh simpati kepada saudara bungsu yang hidupnya melarat. Mungkin juga kita berpikir seharusnya saudara yang kaya bisa membantu saudaranya yang miskin. Atau ada yang berpikir, saudara yang miskin perlu bertobat atau terkena kutuk sehingga hidupnya sial. Namun jika kita renungkan, apalah artinya semua perbedaan itu jika pada akhirnya kita semua mati dan meninggalkan dunia ini? Kita akan menghadapi babak baru dalam kehidupan kita di kekekalan yang jauh lebih penting.

Sahabat NK, setiap kita mungkin memiliki kisah hidup yang berbeda. Namun kita perlu ingat bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara saja. Paulus, seorang yang sudah mengecap baik kekuasaan, keberhasilan maupun penderitaan. Ia berkata, yang paling ia kehendaki bukanlah mengenai bagaimana penghidupannya di dunia, melainkan ia rindu untuk mengenal Kristus dan menjadi serupa degan Dia.

Alkitab berkata bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Marilah kita menjadi orang-orang yang berhikmat dalam menjalani kehidupan ini dengan percaya dan mengenal Allah. [WT]

Yeremia 41-42

Kedua paal ini mencatat tentang tindakan orang Israel; yang menantang Tuhan, dengan membohongi Yeremia agar berdoa dan membujuk Tuhan untuk mengubah rencana-Nya, sehingga mereka dapat pergi ke Mesir. Namun Tuhan tak dapat dibohongi karena Tuhan tahu bangsa itu munafik.