Masalah, Disambut Atau Harus Diusir ?

160331171019

“Masalah kok disambut, ya seharusnya diusir lah..”

Apakah Anda setuju dengan pendapat di atas? Banyak dari kita mungkin sependapat dengan pernyataan itu. Siapa sih yang suka menghadapi masalah? Tidak seorang pun tentunya. Kita tentu berharap hidup itu indah, mulus, bahagia dan tanpa masalah. Namun adakah kehidupan yang seperti itu? Jawabannya adalah “Tidak ada, sahabatku!”

Bahkan sejak pertama kali lahir dari kandungan ibu, kita sudah diperhadapkan dengan masalah. Seorang bayi yang lahir, ia keluar dari kenyamanan kandungan ibunya dan langsung menangis. Namun tahukah Anda bahwa menangis adalah tanda bahwa bayi itu sehat karena pada saat ia menangis mengembangkan paru-parunya dan mendorong oksigen masuk ke aliran darahnya. Jadi ketidaknyamanan yang bayi itu alami adalah sesuatu yang baik.

Demikian juga seterusnya dalam pertumbuhan seorang manusia, masalah yang Tuhan ijinkan datang kepada kita adalah untuk kebaikan kita. Sebab itu dituliskan dalam Yakobus 1:2-3 :

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Kata pencobaan dalam Alkitab versi The Massage dalam ayat di atas dituliskan sebagai “test and challange” yaitu ujian dan tantangan. Jadi sikap yang benar dan Tuhan inginkan kita miliki saat menghadapi ujian dan tantangan kehidupan adalah kita merasa bahagia.
Mengapa kita harus merasa berbahagia dan menyambut saat ujian dan tantangan kehidupan datang?

1. Melaluinya kita belajar kebenaran Kerajaan Allah

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. ~ Mazmur 119:71

Dalam versi The Massage ayat di atas diterjemahkan seperti ini: “My troubles turned out all for the best–they forced me to learn from your textbook.” Jadi tes dan ujian dalam kehidupan kita, adalah cara Tuhan untuk mengajar kita nilai-nilai Kerajaan Allah, sehingga kebenaran yang tertulis dalam Alkitab tersebut bukan sekedar teori dan kita hafal saja, namun juga kita hidupi.

Terkadang untuk belajar sesuatu yang sulit, kita tidak melakukannya dengan rela hati. Itu sebabnya ada waktu-waktu tertentu dimana Tuhan merancang situasi dan kondisi dimana kita akhirnya “terpaksa” belajar (they forced me to learn) dan menghidupi kebenaran Kerajaan Allah itu.

2. Meluruskan jalan-jalan kita

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. ~ Mazmur 119:67

Seringkali kita tidak menyadari bahwa diri kita sudah menyimpang dari jalan-jalan yang Tuhan tetapkan, dan karena kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita, Ia meluruskan jalan kita dan menyadarkan kita akan kesalahan kita. Cara yang Tuhan pilih salah satunya adalah melalui masalah. Mengapa? Seberapa sering kita ingat kepada Tuhan saat hidup baik-baik saja dan penuh kebahagian? Jarang bukan, karena saat itu kita merasa tidak butuh Tuhan.

Namun saat masalah melanda, dan tidak ada jalan dan pertolongan lain, maka pandangan kita terarah kembali kepada Tuhan. Seperti kisah anak yang terhilang, saat kondisinya sudah berada di paling sulit, ia memutuskan kembali pada bapanya. Hal inilah yang harus kita lakukan, datanglah kembali kepada Bapa Sorgawi, dengarkanlah bimbingan dan tuntunan-Nya sebab Ia mengasihi Anda dan saya.

3. Mengukur pertumbuhan

Saat kita masih duduk di bangku sekolah dan kuliah bukankah kita harus menghadapi ujian untuk bisa naik kelas? Hal yang sama berlaku dalam sekolah kehidupan, Tuhan mengijinkan ujian dan tantangan terjadi untuk mengukur seberapa kemampuan kita dan apakah kita sudah bisa naik ke level yang lebih tinggi, atau bisa diartikan juga menjadi lebih dewasa baik dalam pemikiran maupun dalam kerohanian.

Ingatlah janji Tuhan ini:

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. ~ 1 Korintus 10:13

Hal yang sangat penting dan harus diingat : Jika Tuhan memberikan ujian, Dia sudah menyiapkan kunci jawabannya.

Jadi, tidak perlu takut atau kuatir saat masalah datang karena kita pasti bisa menghadapinya karena hal itu pasti tidak melebihi kekuatan kita. Kekuatiran dan ketakutan hanya akan melemahkan diri kita saja. Sebaliknya saat kita menyadari bahwa Tuhan memegang kendali atas segala situasi, maka iman kita dikuatkan dan kita bisa menghadapi masalah itu seperti Nabi Habakuk :

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ~ Habakuk 3:17-18

Namun satu hal yang perlu diingat bahwa masalah yang bisa kita sambut adalah masalah yang Tuhan ijinkan terjadi, bukan masalah yang kita buat sendiri. Karena tak jarang manusia sering membuat masalah sendiri, orang itu dicobai oleh keinginannya sendiri dan dipikat olehnya yang akhirnya berujung pada dosa (Yakobus 1:14-15). Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai “problem solver” bukan “trouble maker”, jadilah garam dan terang sehingga nama Tuhan ditinggikan oleh setiap hal yang terjadi dalam hidup kita.

Hadapilah masalah seperti seorang peselancar yang bersemangat saat menghadapi ombak tinggi, karena itu artinya ia bisa menikmati sensasi menegangkan berselancar di atas ombak. Demikian juga kita, saat masalah datang hadapilah dengan semangat karena itu artinya kita bisa menikmati dan menyaksikan bagaimana Tuhan berkarya dengan ajaib dalam hidup kita.

Sumber : Puji Astuti | Jawaban.com