Minggu, 30 November 2014

JALAN LEBIH TERANG

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Pertengkaran dalam keluarga sering kali terjadi dan pertengkaran tersebut biasanya bukan karena hal besar tetapi hal-hal kecil bahkan hal-hal sepele yang mungkin sering diulang-ulang dan menjadi besar. Satu kali saya mendengar ada pertengkaran suami istri tetangga saya. Pada saat itu saya masih belajar mengimani sesuatu karena ada pertengkaran terjadi saya belajar mendoakan kedua orang tersebut agar ada damai sejahtera Allah atas keluarga mereka dan pertengkaran bisa segera berhenti.

Karena saya tinggal bersebelahan, saya dengar pokok permasalahan yang mereka pertengkarkan. Masalah klisa: soal uang. Yang mau saya bagikan di sini adalah waktu saya dengar ada masalah saya mendokan dan sangat berharap doa saya Tuhan jawab yaitu supaya ada damai sejahtera Allah dan mereka bisa rukun kembali. Setelah saya berdoa saya menantikan jawaban Tuhan dan setelah pkl. 21.00 saya dipanggil oleh sang suami. Saya melihat jawaban Tuhan ketika mereka malam itu bisa makan bersama dan pulang agak larut malam dengan hubungan yang rukun dan keesokan harinya sudah kembali normal.

Saya juga mempraktekkan hal tersebut kepada kedua orang tua saya yang berselisih paham. Waktu saya mendengar kedua orang berselisih paham dan saya datangi mereka kami berkumpul bersama adik juga, kurang lebih dua jam tidak ada solusi karena tidak mau dengar dan tidak menerima solusinya, akhirnya saya berdoa bersama mereka secara bersama-sama, memang setelah berdoa masih saja berdebat akhirnya saya harus pergi karena ada urusan kerjaan.

Waktu saya tinggalkan dengan situasi yang masih belum kondusif saya melatih iman saya untuk mengimani bahwa kedua orang tua saya bisa kembali rukun dan punya hati untuk mengampuni. Lalu sore harinya saya membaca di bbm grup bahwa papah saya sedang memijat mamah saya dan saya yakin bahwa Tuhan menjawab Iman. Saya belajar ternyata Tuhan banyak menjawab iman kita bukan kebutuhan kita, karena itu orang benar hidup oleh iman. [FS]

Yeremia 45-46

Pasal 45, fokusnya kepada Barukh yang setia kepada Yeremia, hal ini mengajarkan kita bahwa, Tuhan melihat pekerjaan kita, Tuhan mengetahui penderitaan kita, Tuhan mendemgar perkataan kita, Tuhan memenuhi kebutuhan kita.

Pasal 46, Yeremia menjadi nabi bangsa Yahudi, juga bagi bangsa-bangsa yang membawa pesan Tuhan mengenai; damai sejahtera dan penghiburan.