November – Minggu 5

KUASA PERKATAAN IMAN

S1 – SEMBAH DAN PUJI (20 Menit)

S2 – SUASANA

Apakah berkat rohani yang Anda dapatkan dari pembacaan dan penerapan prinsip firman dalam Renungan Harian Nilai Kehidupan sepanjang minggu ini? Ceritakanlah secara singkat di dalam kelompok.

S3 – SHARING FIRMAN DAN DISKUSI (50 Menit)

BACAAN: YAKOBUS 3:1-12

Jika kita simak Ams 10:11, Ams 18:21, dan Ams 12:18 kita mendapat gambaran yang jelas mengenai peranan perkataan dalam kehidupan. Perkataan kita memiliki “kuasa”, yaitu memberi kehidupan atau kematian. Jadi kuasa perkataan di sini bukanlah ‘mantra magis’ yang bila diucapkan (berulang-ulang) maka ada kuasa yang mengerjakan sesuatu. Tetapi yang dimaksud dengan “Kuasa Perkataan” di sini adalah bahwa ada konsekuensi, akibat dan dampak dari setiap perkataan yang kita ucapkan. Apa yang perlu kita lakukan?

1. MENGUASAI PERKATAAN

Karena perkataan di mulut atau lidah kita bisa mengakibatkan hal-hal besar, kita harus dengan hati-hati menguasainya. Perkataan yang sudah telanjur meluncur, tidak bisa ditarik kembali. Perkataan itu bisa saja melukai orang lain. Yakobus mengibaratkan penguasaan diri terhadap perkataan itu seperti kekang pada mulut kuda atau kemudi kapal (Yak 3:3-4). Kita harus tahu persis kapan saatnya berbicara dan kapan saatnya diam. Apakah Anda pernah mengalami ‘keseleo lidah’ dan mengakibatkan salah paham? Bagaimana Anda mengatasinya?

2. MELATIH PERKATAAN

Apa yang masuk ke dalam pikiran seseorang, itu pula yang mayoritas mendominasi tindakan dan ucapannya. Jika hal-hal negatif yang terus dikonsumsi pikiran, tidak jarang perkataan-perkataan kotor yang mengalir dari mulut seseorang. Perkataan yang santun, membangun dan menjadi berkat tidak terjadi begitu saja. Ini harus dilatih dengan terlebih dahulu memberi makanan yang baik terhadap pikiran kita dengan firman Tuhan, sehingga perkataan iman yang membangun yang terucap. Apa yang biasa Anda lakukan untuk melatih perkataan Anda?

3. MENGOREKSI PERKATAAN

Salah ucap, keliru bicara adalah hal yang tak terhindarkan. Kita bisa menyikapinya dengan berbagai pilihan: membiarkannya berlalu dan menjadi bola liar atau berusaha dengan keras untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan perkataan yang kita buat. Sebagai orang percaya, tentu kita memilih hal yang kedua. Jangan sampai perkataan kita menjadi noda yang mencemari banyak hal (Yak 3:6). Bagaimana Anda membiasakan diri meminta maaf untuk perkataan salah yang Anda ucapkan? Bagaimana hasilnya?

S4 – SASARAN DAN RENCANA (10 Menit)

Mulailah komitmen untuk menguasai lidah/mulut/perkataan dan melatihnya sedemikian rupa agar senantiasa mengeluarkan perkataan berkat dan membangun iman.