Sabtu, 20 Agustus 2016

KORUPSI

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau…” (Ibrani 13:5)

Sebuah lembaga anti korupsi bernama Transperancy International merilis data indeks persepsi korupsi (Corruption Perception Index) tahun 2015 pada awal Januari lalu. Ada 168 negara yang diamati. Hasilnya, negara-negara Eropa seperti Denmark, Finlandia, Selandia Baru, Swedia, Belanda, dan Norwegia menempati peringkat atas. Sementara itu, peringkat bawah ditempati oleh Sudan, Afganistan, Korea Utara, dan Somalia. Indonesia disebut menempati peringkat 88 (dari 168), dengan skor CPI 36 (angka maksimal terbaik adalah 100).

Hasil analisa tim ini untuk Indonesia menyebutkan bahwa skor CPI Indonesia meningkat 2 poin dan berhasil naik 19 peringkat dari tahun lalu. Namun begitu, mereka menyebutkan nilai ini tidak dapat dipakai secara mutlak untuk menilai tingkat korupsi di sebuah negara, mengingat banyak tindakan korupsi yang dilakukan secara terselubung. Bahkan, mungkin masih banyak kasus-kasus kecil yang belum terungkap di bidang atau area tertentu yang kurang tersorot oleh publik.

Salah satu tindakan korupsi yang pernah dilakukan oleh orang-orang Israel adalah ketika Tuhan memberi mereka manna saat dalam perjalanan menuju tanah perjanjian Kanaan. Walaupun Tuhan sudah mengatakan kepada mereka untuk mengambil secukupnya, namun beberapa dari mereka menyimpan lebih untuk persediaan hari esok. Contoh lain dalam perjanjian baru adalah ketika Ananias dan Safira berusaha mengambil keuntungan atas penjualan tanah yang seharusnya dipersembahkan kepada rasul-rasul untuk membiayai jemaat mula-mula. Korupsi lahir dari ketidakpercayaan kita kepada Tuhan, yang mendorong kita untuk mengambil lebih dan pada akhirnya membawa kita kepada keserakahan.

Mungkin kita bukan para pejabat pemerintah yang terbelit kasus korupsi besar seperti yang diberitakan di media massa. Namun ingatlah, akar dan awal dari korupsi adalah kekuatiran kita akan hari esok dan cinta akan uang. Bahkan di saat masa-masa tersulit dalam keuangan kita, tetaplah bersyukur bahwa Tuhan masih dan selamanya akan terus memelihara kita sehingga kita tidak akan pernah berkekurangan. [JN]

P1: Mengapa kita tidak perlu merasa kuatir akan hari esok? Apa kunci supaya kita tidak lagi merasa kuatir? (MATIUS 6: 25-34)
P2: Apakah kondisi keuangan Saudara sedang mengalami kesulitan? Tetaplah percaya bahwa Tuhan akan membuka jalan karena Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Saudara.