Sabtu, 5 Januari 2019

 

Bukan Mistis

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8)

Tentunya sudah banyak sekali kita dengar kesaksian tentang orang Kristen yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan atau klaim dari beberapa hamba Tuhan yang mengaku sering berjumpa dengan Tuhan. Tanpa bermaksud menghakimi, biasanya mayoritas dari kesaksian atau klaim perjumpaan dengan Tuhan itu bersifat mistis dalam artian terjadi dalam mimpi atau mengalami penglihatan atau juga mendengar suara yang langsung diklaim sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Apakah memang perjumpaan dengan Tuhan harus selalu melalui pengalaman mistis seperti itu? Tentunya tidak, bahkan pengalaman mistis seperti itu biasanya sangat subyektif dan susah dibuktikan. Kalau Tuhan berkenan “ditemui atau menemui“ kita tentunya bukan sekedar menghasilkan kesaksian yang tidak membangun kerohanian dan mengubahkan hidup kita ataupun orang lain.

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan menghasilkan pengalaman yang berbeda-beda buat tiap orang, ada yang terasa begitu nyata tapi ada juga yang hanya terasa samar. Apakah Tuhan melakukan diskriminasi? Tentu tidak. Tuhan yang sama yang menyediakan diri bagi semua umat-Nya yang percaya. Kadar kehadiran Tuhan dalam hidup kita ditentukan oleh seberapa besar usaha kita membuka diri buat Tuhan, dalam konteks seberapa saleh hidup kita dan seberapa besar usaha dan pengorbanan waktu juga perhatian yang kita lakukan untuk mencari dan menemukan Tuhan.

Tuhan berjanji bahwa siapa yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan, siapa yang mencari dengan tekun pasti akan menemukan. Tuhan tidak akan ditemukan oleh mereka yang tidak haus dan lapar akan diri-Nya. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang terpenting adalah melalui pengalaman hidup setiap hari melalui penggalian dan pendalaman firman-Nya, karena Alkitab dan firman-Nya adalah satu-satunya sarana kita buat mengenal dan berjumpa dengan Tuhan secara objektif. Perjumpaan dengan Tuhan akan membuahkan kehidupan yang lebih bersih, penghargaan kepada nilai-nilai rohani terutama kerajaan Sorga yang akan datang dan pembelaannya terhadap pekerjaan Tuhan. [CK]