Selasa, 28 Agustus 2018

 

First Lady

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”

(Efesus 3;20)

Pada masa mudanya, Eleanor Roosevelt adalah anak pemalu, yang mengalami kehilangan ibu pada usia 8 dan kehilangan ayahnya pada saat usianya 10 tahun. Sikap fisiknya kaku, sikap sosialnya aneh, diharapkan hadir namun tidak diperbolehkan berbicara. Bahkan ibunya memanggilnya nenek di hadapan tamu karena sikapnya itu. Orang tuanya yang kaya raya itu tidak memiliki cukup waktu untuk memperhatikan Eleanor pada masa golden age. Sesudah kehilangan orang tuanya, pada masa remaja, Eleanor diasuh oleh neneknya dan dikirim ke sekolah berasrama selama 3 tahun. Hal itu mengubah hidupnya menjadi lebih baik di bawah didikan gurunya.

Eleanor Roosevelt tercatat sebagai First Lady yang mengabdi dengan waktu paling lama, dari 1933 sampai 1945. Ketika suaminya Franklin D. Roosevelt menjadi Presiden Amerika Serikat pada 1933, Eleanor membuktikan kepada dunia bahwa First Lady merupakan komponen terpenting dalam politik Amerika. Pasca kematian suaminya pada 12 April 1945, Eleanor sempat memutuskan untuk berhenti dari kancah politik. Namun, Presiden berikutnya, Harry Truman menunjuknya sebagai delegasi untuk United Nations General Assembly dari 1945 hingga 1953. Presiden John F. Kennedy kembali menunjuknya pada 1961 dan kemudian ditunjuk menjadi National Advisory Committee of Peace Corps dan menjadi kepala dari President’s Commission on the Status of Women. Selain aktif sebagai seorang politisi wanita yang menginspirasi, Eleanor juga menulis beberapa buku. Ia fokus kepada isu wanita, anak, dan hak-hak asasi manusia.

Sahabat NK yang terkasih, mari bersama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang positif dan berdampak bagi sekeliling kita dengan senantiasa mengandalkan kuasa Roh Kudus yang ada di dalam hidup kita. Tanpa mengandalkan kuasa Tuhan tentu kita tak berkenan, meskipun secara jasmani kita mampu. Namun yang paling kita dambakan adalah perkenan Tuhan atas apapun yang kita rencanakan, agar kita beroleh hikmat, sehingga hasil akhirnya tidak akan mengecewakan. Pada saat kita mulai merasa tak mampu, ingat kembali Firman Tuhan, dan ingat kembali kisah First Lady yang satu ini, Eleanor Rosevelt. [MM]