Senin, 24 November 2014

LATAH

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2:22)

Berapa banyak di antara kita yang sering kali menjadi latah untuk berkata “Amin” saat orang lain mengucapkan doa atau kata-kata positif mengenai kehidupan masa depan kita, namun sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh meng-amin-kannya dalam tingkah laku dan pola pikir sehari-hari kita? Terlalu mudah bagi kita mengatakan “Amin” dengan sekumpulan jemaat yang lain tanpa memikirkan kedalaman maknanya bagi kita sendiri.

Orang lumpuh yang terbaring 38 tahun lamanya di serambi kolam Betesda juga seperti itu. Sebenarnya ia bukan tidak mau sembuh, namun ia selalu pesimis mengenai kehidupannya sehingga tidak ada usaha apapun yang dia lakukan untuk “mengejar” kesembuhan itu.

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Iman tanpa usaha dan hanya menunggu “keajaiban” terjadi dalam kehidupan kita juga adalah sia-sia. Lihat di ayat 14 mengenai kata-kata Yesus saat bertemu kembali dengan si lumpuh: “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi.” Dosa apakah yang telah ia perbuat? Pola pikir dan tingkah laku yang pesimis saat menghadapi suatu masalah. Tuhan ingin kita beriman dan juga berhikmat, bagaimana agar kita tetap ada dalam pengharapan, meskipun keadaan yang kita alami saat ini semakin menuju kepada kemustahilan.

Iman selalu berhadapan dengan rentang waktu karena Tuhan ingin menguji seberarapa besar iman kita untuk tetap berpegang pada pengharapan kita. Apakah kita menjadi lemah saat menghadapi kondisi yang tidak memungkinkan. Iman adalah soal pengharapan kita, bukan tentang apa yang kita hadapi sesuai dengan kondisi yang saat itu kita hadapi. Pengharapan kitalah yang membuat kita mengerjakan iman kita, bukan hanya menanti keajaiban dengan berpangku tangan, tetapi mengusahakannya. [JN]

Yeremia 33-34

Pasal 33, Manusia bisa membungkamkan hamba Tuhan, tetapi firmanNya tidak dapat dibungkamkan. Tuhan memberikan pesan penghiburan kepada nabi-Nya yang dipenjarakan. Melalui kita, Tuhan membawa pesan kesehatan rohani, penyucian dan damai sejahtera bagi orang lain (33).

Pasal 34; pemberitahuan tentang; perbudakan musuh (1-7), perbudakan saudara sebangsa (8-22).